Prioritas Gerakan Dakwah (by; Tifatul S.)

29Dec07
Prioritas Gerakan Dakwah
Oleh: Tifatul Sembiring, Presiden PKS
(Dimuat di Opini, Republika, Selasa, 26 Juni 2007 hlm. 4)

Apa yang terbayang di benak masyarakat internasional saat ini, khususnya Barat yang menguasai jaringan berita, bila diminta untuk mendeskripsikan tentang Islam? Bisa diduga rata-rata mereka akan menjawab bahwa Islam identik dengan keterbelakangan, pertikaian, dan kekerasan.
Berbagai paparan di media yang berkaitan dengan Islam dewasa ini memang tak lepas dari stereotip itu. Hampir setiap hari pemberitaan dunia Islam lekat dengan kekerasan, lekat dengan perpecahan maupun konflik. Bila kita punya puluhan layar televisi yang mampu memonitor berita dunia, memang aroma pertikaian dan kekerasanlah yang amat terasa.
Sebuah bom mobil meledak di daerah permukiman kaum Sunni di Baghdad. Sontak berita itu kita saksikan di televisi. Darah yang berceceran, korban yang mengerang, serpihan tubuh yang berserakan, sirine ambulans, dan seterusnya terlihat nyata. Lantas disusul beberapa hari kemudian dengan ledakan keras di tengah-tengah keramaian perayaan Hari Asyura kaum Syiah di Karbala. Ratusan orang pun jadi korban. Di Palestina, pasukan Hamas bertempur di jalan-jalan dengan kelompok Fatah. Sementara di Lebanon, pasukan pemerintah tengah sibuk menghajar permukiman pengungsi Palestina.
Tayangan ini semacam jadi santapan lezat bagi media asing seperti Fox News, CNN, BBC, ABC, dan kantor berita lainnya. Sunni dan Syiah saling menumpahkan darah. Mereka lupa bahwa musuh sesungguhnya adalah sang agresor Amerika. Hamas dan Fatah akhirnya bertikai. Mereka lalai bahwa musuh sebenarnya adalah Zionis Israel.
Paradoks ini relevan dengan hadis Rasulullah SAW yang mengatakan, bahwa ada suatu masa di mana jumlah umat Islam itu banyak akan tetapi mereka bagaikan buih yang hanya ikut ke mana arus membawanya. Atau juga kalimat beliau yang mengatakan, nanti umat Islam bagaikan sepinggan hidangan yang dikerubuti oleh orang-orang yang lapar. Masya Allah. Fakta yang kita temui memang menunjukkan, bahwa ada sebagian umat yang belum memahami Islam secara utuh. Mereka mengambil langkah-langkah yang tidak bersesuaian dengan konsepsi Islami berupa kekerasan yang tidak pada tempatnya. Bom Bali, bom Marriot, bom Kedutaan Australia telah menelan banyak korban. Kebanyakan di antara mereka yang meninggal adalah orang Islam juga. Siapa yang memberi fatwa bahwa tindakan ini dapat dibenarkan? Dalil apa yang dipakai? Alangkah sederhananya mereka memandang kebolehan berijtihad .
Sebuah catatan lagi, bahwa membangun citra umat memang belum menjadi agenda prioritas dari berbagai gerakan dakwah saat ini. Konsep Islam sebagai rahmatan lil ‘alamiin masih tenggelam dalam hingar-bingar tudingan bahwa Islam adalah teroris, antidemokrasi, memasung kebebasan perempuan, dan sebagainya. Penentuan agenda dakwah masih kerap dipengaruhi oleh stimulasi isu-isu sesaat dan provokasi dari lawan sehingga mengacaukan prioritas kerja.

Mengutamakan Pendidikan
Membangun keunggulan umat seyogianya dimulai dari upaya memiliki kekuatan intelektual yang memadai dengan cara memperbaiki kualitas pendidikan. Pesantren-pesantren maupun sekolah-sekolah agama yang selama ini terbukti menjadi basis pencetakan SDM, perlu kita tingkatkan kualitasnya. Apakah fisik bangunannya, kurikulum, manajemen maupun sumber daya manusia pengajarnya. Pesantren yang modern, yang berwawasan global tanpa harus kehilangan jatidirinya sebagai institusi pendidikan Islami, penting kita wujudkan. Jangan pula malah sang kiai asyik dengan kesibukan bermanuver politik, sehingga pendidikan santri menjadi terbengkalai. Sementara para orangtua santri sangatlah berharap, lembaga ini sebagai pencetak SDM yang siap mengusung dakwah di masa depan. Pendidikan Islam yang utuh akan mampu mengikis praktik-praktik kekerasan yang dilakukan sebagian orang. Anarkisme biasanya muncul dari mereka yang kurang terdidik dan yang tidak memahami esensi Islam secara luas beserta prinsip-prinsipnya.
Seterusnya, kitapun perlu saling menasihati agar umat ini bersatu dalam upaya penguatan prinsip agar umat Islam teguh memegang ajaran sekaligus konsisten melaksanakannya. Kekuatan prinsip ini juga akan membentuk bagaimana seorang Muslim berinteraksi dengan pihak-pihak yang memiliki kepercayaan berbeda. Kita harus menghormati keyakinan orang lain, walau kita tidak perlu mengakui kebenarannya. Bahkan Allah SWT mengakui keberadaan mereka. Firman-Nya, “…lakum diinukum waliyadiin.” Kesiapan kita untuk berinteraksi dengan berbagai pihak yang berbeda keyakinan adalah keniscayaan dalam menunaikan amanah sebagai khalifah fil ardh.
Dalam pola interaksi dengan pihak luar pun kita harus melakukan reposisi. Kesetaraan antarperadaban perlu kita tegakkan. Selama ini, umat terlalu sering menjadi obyek. Kita tentu merasa dipojokkan oleh beberapa stigma, termasuk tulisan Samuel Huntington yang mendefinisikan Islam sebagai musuh Barat dalam bukunya The Clash of Civilization.
Kita perlu menjawab semua tudingan itu, sebagai advokasi pencitraan umat. Harus kita tegaskan bahwa Islam bukanlah musuh kebenaran. Perlu ada komunikasi yang menjelaskan bagaimana Islam yang sesungguhnya. Kita tidak boleh hanya sibuk menggunjingkan rumah tangga orang lain melalui program infotainment misalnya, atau sibuk dengan segala macam idol yang tidak begitu jelas orientasinya. Sementara itu umat dicerca, direndahkan, dan dijadikan bulan-bulanan oleh pihak-pihak yang membenci Islam.
Pencitraan umat perlu dilakukan secara progresif. Karena itu kita butuh media seperti televisi. Kita harus upayakan stasiun televisi yang menyampaikan syiar Islam, tayangan yang edukatif, yang memaparkan wajah Islam yang penuh keindahan dan kasih sayang serta jauh dari aroma kekerasan, mistik, keterbelakangan, dan berbagai kesan negatif lainnya. Citra Islam yang damai, sejuk dan konsisten itulah yang harus kita perjuangkan.
Demikianlah, seyogianya para kader gerakan dakwah memfokuskan diri pada kerja-kerja yang membangun dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Bukan pada hal-hal yang seremonial, atau sekadar retorika yang jauh dari substansi pembinaan umat.

TV Dakwah Perlu Mendapat Dukungan Sebagai anggota masyarakat yang haus akan tayangan edukatif dan Islami, ide yang digulirkan oleh Presiden PKS, Tifatul Sembiring (Republika, 26 Juni 2007), tentang TV dakwah amatlah positif dan memang diperlukan. Jika bisa terwujud, amat banyak mata acara dakwah dan syiar Islam yang dapat ditayangkan pada televisi tersebut, seperti sinetron yang Islam, siraman rohani Islami, riwayan nabi dan rasul, dan sebagainya. Acara semisal iklan produk halal, perjalanan jamaah haji, napak tilas ilmuwan Muslim, tayangan produk ekonomi syariah, juga bisa kita saksikan di televisi tersebut. Namun demikian, pembangunan stasiun televisi tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Akan tetapi, jika dikoordinasi dengan serius oleh pihak yang berkompeten, misalnya melalui penggalangan dana umat, maka insya Allah cita-cita tersebut bisa terkabul. Ide yang luhur, mulia, dan positif ini kiranya dapat dipikirkan secara matang untuk ditindaklanjuti dengan sungguh-sungguh dan bersama-sama. Husaini Mansur Jl Mawar 22 Pondok Cina Depok, Jawa Barat



One Response to “Prioritas Gerakan Dakwah (by; Tifatul S.)”

  1. 1 endah purwanti

    mohon di kirim


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: